HANSIP aksi Ketoprak di desa Banjaroya

23 04 2012

penabuh gamelan ketoprak

penabuh gamelan ketoprak

Salah satu kekayaan komunitas kesenian di wilayah kecamatan Kalibawang yang dimiliki adalah grup ketoprak Linmas atau yang lebih popular dengan HANSIP.  Ketoprak ini tampil pertama kali pada sabtu (malam minggu) 21 April 2011 dan berakhir pada minggu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB di dukuh Banjaran . desa Banjaroya.

Meskipun pemilihan tempat pementasan ketoprak ini secara geografis terletak jauh dari akses jalan raya, namun penonton sangat antusias menyaksikan pertunjukan ketoprak yang mayoritas aktornya adalah warga sekitar termasuk para pemain gamelan dan penyanyi (sinden).

Ketoprak yang merupakan seni pertunjukan yang merupakan warisan budaya ini didukung oleh pengurus desa wisata Banjaroya. Terlihat dalam acara tersebut Rohmaduna selaku ketua desa wisata Banjaroya ikut menikmati pagelaran ini hingga dini hari.

Iklan




Pencak Silat dalam Tarian Topeng Ireng Penulis : Sulistiono

20 07 2010

ADALAH kelompok seni Topeng Ireng Cahyo Kawedar di Dusun Padakan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang saban pentas gaduh dengan iringan beduk, kendang, dan bende. Terlebih lagi, muncul jurus-jurus pencak silat dalam tarian.

Untuk pementasan sederhana, jurus-jurus pencak silat yang ditampilkan masih sesuai dengan pakem tari topeng ireng. Namun dalam pentas yang lebih khusus, gerak tariannya dikolaborasi dengan berbagai macam jurus pencak silat sehingga durasi pentas pun bisa mulur.

Untuk pementasan sederhana, dibutuhkan waktu paling cepat 15 menit. Tetapi, untuk pementasan khusus dengan sisipan berbagai jurus pencak silat memakan waktu 1 jam.

Setiap pentas, kelompok penari topeng ireng memiliki susunan materi tari yang sudah mapan, dirancang sesuai dengan kebutuhan pementasan.

Saat pementasan di Taman Budaya Yogyakarta pada acara Pasar Kangen, awal bulan Juli, pertunjukan topeng ireng melibatkan 13 penari.

Di awal tarian penabuh musik memainkan lagu Atur Pambagyo diiringi dengan satu gerakan pencak silat.

Lagu itu bersambung dengan lagu Atur Sugeng, Pemuda, dan Olah Rogo. Di setiap peralihan, masuk selingan musik intro, lantas penari pun terus membawakan tarian mereka mengikuti alunan tetabuhan.

Ya, setiap ada alunan dari musik tabuh, penari bergerak tanpa henti, dengan menonjolkan jurus-jurus pencak silat yang mereka kuasai. Seperti jurus elakan bangau pada lagu Atur Pambagyo, jurus elakan harimau pada joget di lagu Pemuda, dan jurus serangan macan dan elang melayang pada judul lagu Olah Rogo.

“Tarian topeng ireng juga memiliki pakem seperti halnya tarian lainnya. Tetapi kita fl eksibel dalam menari karena disesuaikan dengan kebutuhan,” kata pelatih tari topeng ireng, Sumarjono.

Ia mengisahkan, kesenian topeng yang dikenal masyarakat Yogyakarta dengan sebutan topeng ireng itu berasal dari Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pada awalnya ada yang disebut topeng kawedar yang diciptakan oleh lurah Desa Tuksongo bernama Tumpal. Tarian tersebut dirintis pada 1950 dan baru diresmikan secara terbuka pada 1953.

Seni topeng kawedar merup a k a n s e n i rakyat yang menggabungkan pencak Jawa dengan lagu-lagu salawat sebagai sarana siar Islam. Kini seni topeng ireng belum mati, masih terus berkembang hingga keluar daerah termasuk di wilayah Kulonprogo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Semakin hari topeng ireng mendapat banyak penggemar. Itu bisa dilihat dari ramainya tanggapan dari masyarakat,” ungkap Sumarjono yang sudah menekuni seni topengan sejak 1996.

Topeng Ireng Cahyo Kawedar selalu mendapat tanggapan pentas di berbagai kota seperti Solo, Semarang (Jawa Tengah), di kabupaten/ kota Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan sering kali mendapat tanggapan menari di Jakarta.

Biasanya tanggapan marak mulai April, Agustus, dan hari besar Jawa seperti bulan Rejeb, Syawal, maupun Maulud, hingga pada perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, upacara adat merti dusun, sampai sekadar syukuran khitan.

Dana tanggapan bagi satu grup penari topeng ireng bervariasi dari Rp800 ribu hingga Rp3 juta, tergantung pada jauh dekat lokasi pentas.

“Meskipun seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni ini diminati semua kalangan,” tambah Suyanto, yang juga salah satu pelatih tari topeng ireng, rekan Sumarjono.

Tetap eksis

Di zaman modern ini, seni topeng ireng masih tetap eksis. Tantangan berkesenian dihadapi dengan kearifan dan kreativitas. Mereka mengembangkan seni tari dengan banyak jurus pencak silat untuk mengusir kejenuhan penggemar.

Irama musik yang ditabuh dari alat musik sederhana bisa menghipnosis penonton dan membawa mereka larut dalam gerakan penari.

“Kita sudah banyak ciptakan variasi tarian topeng ireng dari berbagai jurus pencak silat,” kata Suyanto.

Keunggulan seni topeng ireng terletak pada kostum dan keramaiannya. Kostum yang modern dibuat mirip model pakaian khas suku Indian di Benua Amerika, dengan bulubulu pada topi yang dikenakan. Pakaiannya pun dibuat mencolok dan muka penari dilukis dengan motif garis-garis.

Kostum yang dipakai juga fleksibel, bisa diubah dengan memakai bahan alami se perti pada saat tari itu diciptakan yakni menggunakan akar-akar pohon, jerami, maupun janur pohon kelapa. (N-4)

sumber: http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2010/07/15/1075/1/Pencak-Silat-dalam-Tarian-Topeng-Ireng





Tari “Topeng Ireng” Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo, Lestarikan Syiar Islam Dengan Seni Silat

20 07 2010

16 penari Topeng Ireng dari Kelompok Kesenian Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo menari dihadapan pengunjung Pasar Kangen Jogja pada acara pembukaan Pasar Kangen Jogja 2010, Sabtu (26/6).

Pada pembukaan Pasar Kangen Jogja 2010 di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (26/6) adalah kesempatan tampil bagi kelompok kesenian tradisional Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo dihadapan masyarakat Kota Yogyakarta.

16 penari dengan satu kepala suku mementaskan tari Topeng Ireng dihadapan ratusan pengunjung PKJ. Menurut Sumarjono , Koordinator Kesenian Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo, tari Topeng Ireng adalah perwujudan seni tradisional yang menghadirkan kolaborasi syiar agama Islam serta pencak silat.

Tari Topeng Ireng ini berasal dari wilayah Magelang. Saat ini budaya tradisional ini sudah menyebar ke banyak wilayah di DIY seperti Sleman dan Kulonprogo. Tari Topeng Ireng ini mudah dikolaborasikan dengan musik tradisional.Alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi tarian Topeng Ireng antara lain kendang, bende serta saron.

Pada pementasan pada pembukaan PKJ 2010 Sabtu (26/6) kelompok kesenian Cahyo Kawedan mementaskan salah satu jenis tari Topeng Ireng yaitu Rodat yang berarti dua kalimat syahadat. Selain  Rodat, ada juga Monolan yang melibatkan penari dengan pakaian membentuk hewan seperti macan dll.

Monolan ini menurut Sumarjono adalah bentuk tarian Topeng Ireng yang melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat yang kuat. Sementara untuk Rodat ditampilkan dengan gerakan-gerakan kaki dan tangan pencak silat sederhana.

Penari-penari Topeng Ireng Rodat hadir dengan kostum tari yang sederhana namun menarik. Pada tutup kepala, mereka menggunakan kuluk dari bulu ayam, dan menthok warna-warni. Untuk kostum badan mereka menggunakan kaos biasa dan rompi berumbai-rumbai pada bahu dan melapisi celana karet yang mereka pakai.

Para penari juga mengenakan sepatu boot dengan dilapisi puluhan klinting kecil sehingga menghadirkan suara gemerincing yang memikat. Penampilan Rodat berlangsung selama kurang lebih 50 menit. “ Biasanya waktu penampilan ini bisa dibuat fleksibel tidak harus berlama-lama. Bisa dibuat 15 menit, 10 menit bahkan 5 menit saja,” kata Sumardjono.

Arti Topeng Ireng

Diterangkan Sumarjono, tari Topeng Ireng belum diketahui kapan pertama kali muncul. Tarian ini berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng. Toto berarti Menata. Lempeng artinya lurus. Irama adalah nada dan Kenceng berarti Kencang. Topeng Ireng berarti penarinya berbaris lurus dengan irama yang penuh semangat.

“Tari Topeng Ireng adalah gambaran kebersamaan, kekompakan dan semangat tinggi serta kerja keras dalam menjalankan kebenaran,” kata Sumardjono sembari menambahkan alunan irama pada lagu bernuansa religi dengan isi syair agama Islam yang menyatu dengan gerak dan suara penari sehingga menghadirkan kedinamisan.

Topeng Ireng sebetulnya merupakan metamorfosa dari kesenian tradisional Kubro Siswo. Agar lebih menarik kaum muda, pengembangan unsur-unsur artistik yang ada dikemas dan disesuaikan dengan tuntutan kualitas garapan koreografi seni pertunjukan yang inovatif. Sehingga, seni topeng ireng memiliki daya tarik tersendiri.(The Real Jogja/joe)

sumber: http://jogjanews.com/2010/06/29/tari-topeng-ireng-cahyo-kawedan-kalibawang-kulonprogo-lestarikan-syiar-islam-dengan-seni-silat/