Dampak musibah arung jeram

14 02 2011

 

Saya ingin mengajak semua, terutama kawan-kawan pelaku dan peminat wisata petualang, mengkampanyekan wisata arung jeram, alias rafting, itu aman. Soalnya begini.

Tewasnya dua peserta arung jeram pada Sabtu (5/2/2011) berdampak pada sepinya tamu bagi operator penyedia jasa arung jeram. Dampak tersebut telah menjadi kecemasan Saya setelah menyimak beritanya.

Dua orang yang tewas itu adalah peserta, Jarot Nursasongko (32), warga Semarang, dan pemandu, Wawan Kristiyanto (34), warga Magelang. Keduanya, bersama 13 orang lainnya menggunakan dua perahu karet. Seorang penumpang, Benadi (30), warga Semarang, sempat luka dan pingsan. Dua korban meninggal ditemukan di Bogo, Banjarharjo, Kalibawang. Rombongan ini memulai pengarungan dari bawah jembatan Klangon, di Pranan, Banjaroyo, Kalibawang, Kulonprogo.

Dampak tersebut dirasakan langsung oleh Mas Nyoto, seorang operator arung jeram, warga Progowati, Mungkid. Sebagai kawan, Saya hubungi Dia pada Selasa malam (8/2/2011) untuk menanyakan kabarnya.

Malangnya kawan-kawan operator, Mas Nyoto membenarkan kecemasan Saya itu. Sejumlah tamu yang sudah memesan untuk lima perahunya kemudian membatalkan pesanan, menyusul meluasnya berita musibah itu. Kondisi serupa juga dialami beberapa operator lain. Menurut Mas Nyoto, pembatalan itu karena takut mengalami musibah serupa, dan tidak percaya pada standar keamanan operator.

Memang, lebih banyak orang tahu kejadian itu karena peran media. Termasuk para calon tamu, dan bakal calon tamu, yang kemudian membatalkan niatnya berarung jeram. Tidak ada salahnya, dan tidak perlu mencari-cari kesalahannya. Tapi, media perlu sadar dengan dampak beritanya.

Menurut Saya, lebih baik lagi jika media melengkapi beritanya dengan sebab-sebab yang terang, dan dampaknya berita tersebut terhadap para operator. Sehingga, publik dapat mengambil keputusan berdasar pertimbangan-pertimbangan yang lebih bijak. Calon tamu membatalkan pesanannya bukan karena semata takut mengalami nasib serupa.

Terlebih, pada Harian Jogja, Senin (7/2/2011) sudah diingatkan, kelas tingkat kesulitan Kali Progo yang menjadi lokasi musibah tersebut. Lokasinya diperuntukkan bagi kalangan profesional yang harus diiringi tim rescue (penyelamat).

Media bisa membantu mengembalikan kepercayaan publik terhadap operator. Lebih baik lagi jika bisa memberikan rekomendasi, atau tips untuk memilih operator yang pas sesuai kebutuhan calon tamu.

Nah, lebih efektif lagi jika kawan-kawan peminat wisata petualangan yang sudah pernah mengikuti arung jeram yang kampanye. Ini demi menghidupkan kembali dapur para operator, pemandu-pemandunya, dan unit usaha kecil lain yang terlibat di wisata arung jeram.

Sampaikan ke sanak saudara, handai taulan, betapa aman, dan menyenangkan berarung jeram. Orang lebih percaya pada mulut orang yang sudah dikenalnya, dan sudah mengalami langsung.

Saya sendiri baru beberapa kali mengikuti arung jeram. Itu pun di kali yang sama terus: Elo. Membosankan memang, tapi bagaimana lagi, dana yang ada cuma cukup untuk itu, hehehe.

sumber: http://heruls.org/akibat-musibah-arung-jeram.html

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: