Produksi Durian Turun 85%

8 02 2011

 

  • Akibat Abu Vulkanik Merapi

YOGYAKARTA – Produksi durian Kulonprogo tahun ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, menurun drastis. Penurunan produksi itu diakibatkan musibah abu vulkanik Merapi yang meru­sakkan tanaman dan terlalu banyak hujan saat masa pembuangan beberapa bulan lalu.

Di Kulonprogo, sentra durian terutama di Kecamatan Kalibawang dan Kecamatan Kokap. Bahkan, selama ini durian kaliba­wang menjadi salah satu kebanggaan produksi perkebunan petani Kulonprogo. Durian kalibawang yang dikenal sebagai durian menoreh ini tergolong unggul. Salah seorang petani durian kalibawang, Ny Agung, mengatakan, selain daging buahnya tebal, rasanya juga lebih manis.

’’Tapi tahun ini produksi menurun drastis, karena banyak angin, hujan, dan hujan abu Merapi. Selain banyak bunganya  yang tidak jadi, juga banyak pohonnya yang rusak, dahan-dahannya patah terkena hujan abu,’’ kata Ny Agung, warga Desa Banjar­arum, yang juga menjadi penjual durian di tepi Jalan Kalibawang-Muntilan itu.

Lebih Sedikit

Dibandingkan dengan tahun lalu, stok dagangannya pun jauh lebih sedikit. Apabila tahun lalu dalam sehari bisa menjual hingga 200 buah, tahun ini hanya sekitar 20 buah per hari. Karena sedikitnya durian, harga pun lebih tinggi. Durian ukuran terkecil seharga Rp 10.000/buah, sedangkan yang besar Rp 50.000 – Rp 60.000. ’’Harganya lebih mahal. Kalau tahun lalu yang kecil bisa Rp 5.000 dan yang besar Rp 30.000 -Rp 35.000/buah. Mau kulakan banyak durian,  juga tidak ada barangnya,’’ ujarnya.

Camat Kalibawang Rohedy Goenoeng mengatakan, penurunan produksi durian di Kalibawang diperkirakan mencapai sekitar 85%. Dia mengungkapkan, durian menoreh yang unggul ada dua jenis, yakni durian menoreh jingga dan durian menoreh kuning dengan daging tebal yang manis dan bijinya kecil. Kedua jenis itu sentranya di Desa Banjaroya, Kalibawang.

Kepala Desa Banjaroya, Wiwin Windarto, mengungkapkan, saat ini nyaris tidak ada panen durian karena banyak tanaman yang rusak terkena abu vulkanik Merapi. Menurutnya, di Kalibawang biasanya banyak durian pada Desember hingga Maret, namun kondisi tahun ini jauh berbeda.

’’Tahun ini nyaris tidak ada panenan durian. Penurunan produksi mencapai 85%-90%. Bahkan, beberapa jenis buah lain seperti rambutan juga tidak banyak yang panen. Kami berharap pemerintah memberikan kegiatan produktif seperti padat karya pada masyarakat petani buah yang tanamannya tidak bisa produktif,’’ ujarnya. (ang-55)

http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=136290


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: