Pencak Silat dalam Tarian Topeng Ireng Penulis : Sulistiono

20 07 2010

ADALAH kelompok seni Topeng Ireng Cahyo Kawedar di Dusun Padakan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang saban pentas gaduh dengan iringan beduk, kendang, dan bende. Terlebih lagi, muncul jurus-jurus pencak silat dalam tarian.

Untuk pementasan sederhana, jurus-jurus pencak silat yang ditampilkan masih sesuai dengan pakem tari topeng ireng. Namun dalam pentas yang lebih khusus, gerak tariannya dikolaborasi dengan berbagai macam jurus pencak silat sehingga durasi pentas pun bisa mulur.

Untuk pementasan sederhana, dibutuhkan waktu paling cepat 15 menit. Tetapi, untuk pementasan khusus dengan sisipan berbagai jurus pencak silat memakan waktu 1 jam.

Setiap pentas, kelompok penari topeng ireng memiliki susunan materi tari yang sudah mapan, dirancang sesuai dengan kebutuhan pementasan.

Saat pementasan di Taman Budaya Yogyakarta pada acara Pasar Kangen, awal bulan Juli, pertunjukan topeng ireng melibatkan 13 penari.

Di awal tarian penabuh musik memainkan lagu Atur Pambagyo diiringi dengan satu gerakan pencak silat.

Lagu itu bersambung dengan lagu Atur Sugeng, Pemuda, dan Olah Rogo. Di setiap peralihan, masuk selingan musik intro, lantas penari pun terus membawakan tarian mereka mengikuti alunan tetabuhan.

Ya, setiap ada alunan dari musik tabuh, penari bergerak tanpa henti, dengan menonjolkan jurus-jurus pencak silat yang mereka kuasai. Seperti jurus elakan bangau pada lagu Atur Pambagyo, jurus elakan harimau pada joget di lagu Pemuda, dan jurus serangan macan dan elang melayang pada judul lagu Olah Rogo.

“Tarian topeng ireng juga memiliki pakem seperti halnya tarian lainnya. Tetapi kita fl eksibel dalam menari karena disesuaikan dengan kebutuhan,” kata pelatih tari topeng ireng, Sumarjono.

Ia mengisahkan, kesenian topeng yang dikenal masyarakat Yogyakarta dengan sebutan topeng ireng itu berasal dari Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pada awalnya ada yang disebut topeng kawedar yang diciptakan oleh lurah Desa Tuksongo bernama Tumpal. Tarian tersebut dirintis pada 1950 dan baru diresmikan secara terbuka pada 1953.

Seni topeng kawedar merup a k a n s e n i rakyat yang menggabungkan pencak Jawa dengan lagu-lagu salawat sebagai sarana siar Islam. Kini seni topeng ireng belum mati, masih terus berkembang hingga keluar daerah termasuk di wilayah Kulonprogo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Semakin hari topeng ireng mendapat banyak penggemar. Itu bisa dilihat dari ramainya tanggapan dari masyarakat,” ungkap Sumarjono yang sudah menekuni seni topengan sejak 1996.

Topeng Ireng Cahyo Kawedar selalu mendapat tanggapan pentas di berbagai kota seperti Solo, Semarang (Jawa Tengah), di kabupaten/ kota Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan sering kali mendapat tanggapan menari di Jakarta.

Biasanya tanggapan marak mulai April, Agustus, dan hari besar Jawa seperti bulan Rejeb, Syawal, maupun Maulud, hingga pada perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, upacara adat merti dusun, sampai sekadar syukuran khitan.

Dana tanggapan bagi satu grup penari topeng ireng bervariasi dari Rp800 ribu hingga Rp3 juta, tergantung pada jauh dekat lokasi pentas.

“Meskipun seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni ini diminati semua kalangan,” tambah Suyanto, yang juga salah satu pelatih tari topeng ireng, rekan Sumarjono.

Tetap eksis

Di zaman modern ini, seni topeng ireng masih tetap eksis. Tantangan berkesenian dihadapi dengan kearifan dan kreativitas. Mereka mengembangkan seni tari dengan banyak jurus pencak silat untuk mengusir kejenuhan penggemar.

Irama musik yang ditabuh dari alat musik sederhana bisa menghipnosis penonton dan membawa mereka larut dalam gerakan penari.

“Kita sudah banyak ciptakan variasi tarian topeng ireng dari berbagai jurus pencak silat,” kata Suyanto.

Keunggulan seni topeng ireng terletak pada kostum dan keramaiannya. Kostum yang modern dibuat mirip model pakaian khas suku Indian di Benua Amerika, dengan bulubulu pada topi yang dikenakan. Pakaiannya pun dibuat mencolok dan muka penari dilukis dengan motif garis-garis.

Kostum yang dipakai juga fleksibel, bisa diubah dengan memakai bahan alami se perti pada saat tari itu diciptakan yakni menggunakan akar-akar pohon, jerami, maupun janur pohon kelapa. (N-4)

sumber: http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2010/07/15/1075/1/Pencak-Silat-dalam-Tarian-Topeng-Ireng


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: