Lindungi Varietas Wah, Produksi Benih Durian Asli Kulon Progo Dibatasi

23 01 2010

KULON PROGO, KOMPAS.com – Produksi benih durian menoreh asal Kulon Progo, DIY, dibatasi. Setiap tahun, petani hanya diperkenankan mengambil 1.300 mata tunas dari dua pohon induk untuk kemudian dibesarkan dan dijual kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, durian menoreh tidak akan diakui oleh petani di daerah lain.

Pembatasan produksi benih tersebut, dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Agus Langgeng Basuki, mulai berlaku tahun 2010. Tujuannya untuk melindungi varietas durian menoreh sebagai buah unggulan asli Kulon Progo.

“Benih yang dijual juga dilengkapi dengan sertifikat yang menjelaskan keterangan asal dan kualitas benih tersebut. Dengan demikian, durian menoreh tidak akan diakui oleh petani di daerah lain,” ujar Agus, Kamis (21/1/2010), ketika menghadiri panen durian menoreh di Dusun Potronalan, Banjaroyo, Kalibawang.

Dari kuota pengambilan 1.300 mata tunas itu, tidak semuanya berhasil hidup. Menurut Langgeng, tingkat keberhasilan hidup mata tunas yang sudah disambung sekitar 80 persen. Benih durian menoreh hanya akan tumbuh baik di dataran tinggi dengan iklim lembab, namun tidak terlampau basah.

Perbanyakan benih durian menoreh dilakukan dengan metode mata tempel. Sugito, pembudidaya durian menoreh Kelompok Tani Mamrih Subur, Kajoran, Banjaroyo, menguraikan metode tersebut sebagai upaya menempelkan cabang tunas dari pohon induk di batang benih utama yang berasal dari jenis durian lokal.

“Metode ini tidak akan mempengaruhi kualitas buah durian yang dihasilkan karena akan sama dengan buah pohon indukan. Batang durian lokal hanya memperkuat sistem perakaran,” kata Sugito.

Sugito juga menambahkan, permintaan benih durian menoreh cukup tinggi, mulai dari sekitar DIY, hingga Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera. Harga benih durian siap tanam, berusia 6-8 bulan, bervariasi mulai Rp 7.500 sampai Rp 35.000 per batang. Benih termahal merupakan benih gabungan dari mata tempel tunas dan batang asli durian menoreh.

Di Kulon Progo, terdapat dua jenis durian menoreh, yakni jenis kuning dan jambon (merah muda). Hanya ada satu pohon induk untuk masing-masing jenis yang berada di Desa Banjaroyo.

Kedua pohon induk itu sudah mendapat sertifikat dari Menteri Pertanian nomor 316/Kpts/SR.120/5/2007 sebagai varietas unggul. Menurut Sukidal, pemilik pohon durian menoreh kuning, usia pohon yang ia miliki diperkirakan mencapai 159 tahun.

Durian menoreh memiliki keunggulan aroma buah harum dan daging buah berserat halus, manis, dan tebal. Bentuk buah juga lonjong penuh, dengan warna kulit hijau kekuningan.

Keunggulan itulah yang menyebabkan banyak orang meminati buah asli Perbukitan Menoreh Kulon Progo ini. Di masa panen, sekitar Desember sampai Februari, durian menoreh banyak dijual di tepi- tepi jalan mulai dari Kecamatan Nanggulan hingga Kalibawang, dengan harga bervariasi, Rp 15.000 sampai Rp 75.000 per buah. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sendiri saat ini mulai merintis pembangunan kawasan agrowisata durian di Kalibawang agar pembeli dapat lebih mudah mencari durian menoreh yang asli.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: