Kulonprogo rawan peredaran rokok ilegal

29 07 2010

KULONPROGO: Pasar-pasar tradisional di wilayah Kulonprogo, khususnya yang berdekatan dengan daerah perbatasan, rawan peredaran produk rokok ilegal. Para pedagang diminta hati-hati agar tidak menerima produk rokok tanpa pita cukai.

“Di pasar tradisional Kulonprogo terutama perbatasan masih rawan masuknya produk rokok ilegal dari luar daerah. Produk yang beredar biasanya dari industri berbasis rumah tangga,” kata Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Bidang Pengelolaan Pasar Disperindag Kulonprogo Nurjati Purnomo saat Penyuluhan Perdagangan Produk Hasil Tembakau di Balai Desa Banjararum Kalibawang, Kulonprogo Selasa (27/7).

Pada acara yang dihadiri 50 pedagang dari empat pasar tradisional di Kalibawang yakni pasar Dekso, Pasar Jagalan, Klangon, dan Degan, juga hadir Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Bea Cukai DIY Andriani Wuryastuti.

Salah seorang pedagang di Pasar Dekso, Kalibawang, mengungkapkan pada kurun waktu sekitar 2008-2009 dirinya pernah diminta seorang distributor untuk melepas pita cukai sebuah produk rokok yang tak laku-laku untuk dan diberi imbalan Rp1000,- per pita.

Berdasarkan informasi kantor bea cukai, lanjut Nurjati, Kulonprogo saat ini memang tak ada industri rokok berbasis rumah tangga. Namun Kulonprogo di bagian barat secara geografis berbatasan langsung dengan Purworejo yang selama ini dikenal memiliki banyak industri rokok berbasis rumah tangga. (Harian Jogja/Pribadi Wicaksono/NUC/on)

sumber: http://www.harianjogja.com/beritas/detailberita/HarjoBerita/16675/kulonprogo-rawan-peredaran-rokok-ilegal-view.html





Ribuan Warga Kulon Progo alami Demam Chikungunya

29 07 2010

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kasus klinis Chikungunya di Kabupaten Kulon Progo selama enam bulan (Januari-Juli 2010) sudah mencapai 4.005 kasus. Padahal di Kabupaten Kulon Progo tahun lalu maupun tahun-tahun sebelumnya tidak pernah dilaporkan adanya kasus klinis Chikungunya.

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DIY Daryanto Chadorie pada wartawan, Selasa (27/7).  Kasus klinis Chikungunya pertama kali di Kulon Progo ditemukan di Kecamatan Kalibawang yaitu pada Januari 2010 sebanyak dua kasus dan hampir setiap minggu hingga kini di wilayah tersebut selalu ditemukan kasus. Selanjutnya ditemukan lagi di Kecamatan Kokap, Samigaluh dan sekarang dari 16 Puskesmas yang ada di Kulon Progo sudah pernah menangani kasus klinis Chikungunya.

Puskemas yang paling banyak menangani Kasus klinis Chikungunya dari data yang masuk ke Dinas Provinsi DIY dari minggu ke-1 hingga minggu ke-21 adalah: Puskesmas Girimulyo II sebanyak 939 kasus, Puskesmas Kokap II sebanyak 723 kasus, Puskesmas Kokap I sebanyak 639 kasus, Puskesmas Kalibawang sebanyak 479 kasus, Puskesmas Samigaluh II sebanyak 364 kasus, Puskesmas Samigaluh I sebanyak 220 kasus, Puskesmas Pengasih I sebanyak 146 kasus dan sebagainya.

Dulu, Kulon Progo dikenal terbanyak kasus Malaria dibandingkan kabupaten lain di DIY. Sekarang kasus Malaria justru menurun dan sudah terkendali. Pada tahun 2010 ini kasus malaria di Kulon Progo hanya ada 25 kasus, sedangkan tahun 2009 sebanyak 93 kasus.

Banyaknya kasus Chikungunya di Kulon Progo kemungkinan besar karena adanya perubahan iklim dan lingkungan pegunungan yang mendukung. Apalagi sekarang yang seharusnya musim kemarau masih terjadi hujan.”Meskipun sekarang di sana masyarakat sudah aktif melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), hingga sekarang masih banyak kasus klinis Chikungunya,” kata Daryanto.

sumber: http://gresnews.com/ch/Regional/cl/Kulon+Progo/id/1343201/Ribuan+Warga+Kulon+Progo+alami+Demam+Chikungunya





Saluran Kalibawang ditutup, petani merugi

24 07 2010

KULONPROGO: Setelah penutupan saluran irigasi Kalibawang di wilayah Desa Banjararum, Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, produktifitas padi terganggu akibat masa tanam yang mundur. Praktis, para petani menjadi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti yang diungkapkan oleh Sunaryo (54) petani asal Nanggulan Kulonprogo. Ia merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena penghasilan hanya didapatkan dari bertani. Bahkan sejak saluran tersebut ditutup, ia juga sempat mengalami kerugian antara Rp5 juta hingga Rp7 juta. “Secara tidak langsung terganggu dan untuk pembiayaan pun juga kurang menguntungkan, bahkan merugi. Pasalnya kita tidak bisa menanam tanaman padi. Bahkan tanaman palawija pun sulit untuk di tanam,” jelasnya Rabu (21/7). Penutupan saluran irigasi Kalibawang dilakukan untuk pemeliharaan dan perbaikan talang saluran. Perbaikan tersebut, sekurangnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan mulai Juli hingga Oktober. Masyarakat petani sekitar saluran Kalibawang sendiri sudah menerima sosialisasi dan diharapkan menunda menanam padi sampai pekerjaan perbaikan talang saluran rampung. Namun di sela-sela perbaikan, air masih tetap disalurkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sekadar dikethui, talang Ngentak dan talang Bowong di saluran irigasi Kalibawang rusak parah akibat gempa tektonik pada Mei 2006 lalu. Akibatnya, air yang melewati talang tersebut sulit dinikmati oleh petani.(Harian Jogja/Martha Narulita)

sumber: http://www.harianjogja.com/beritas/detailberita/HarjoBerita/16462/saluran-kalibawang-ditutup-petani-merugi–view.html





Teroris Masuk Desa Resahkan Kulon Progo

20 07 2010

INILAH.COM, Kulon Progo – Polisi Resor Kulon Progo melakukan penyisiran di wilayah Desa Nanggulan dan Kalibawang, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkait isu yang berkembang ada lima orang yang diduga teroris menggelar latihan di desa tersebut.

“Warga Kalibawang dan Nanggulan resah dengan adanya isu teroris masuk desa, kamarin kami dan masyarakat melakukan penelusuran dan penyisiran di hutan-hutan di kawasan dua desa tersebut,” kata Kasat Intel Polres Kulon Progo, AKP Sutikno, di Wates, Minggu (18/7).

Ia mengatakan, setelah diselidiki ternyata isu terorisme berawal ketika seekor anjing milik warga Nanggulan mati, dan salah satu warga setempat melihat orang lewat dan masuk ke hutan pada saat kejadian anjing meninggal. Isu teroris santer berkembang di masyarakat.

“Setelah kami lakukan penyirisan ternyata tidak ada orang yang diduga teroris, melainkan lima orang yang sudah biasa mencari kekelawar di hutan disekitar Desa Nanggulan dan Kalibawang,” ujarnya.

Selama penyisiran, kata dia, warga turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Setelah dilakukan penyisiran selama empat jam dan tidak ditemukannya markas dan kegiatan terorisme, Polres memberikan penjelaskan kepada warga bahwa tidak ada teroris di Kulon Progo, khususnya di Kalibawang dan Nanggulan.

“Kita memberikan penjelasan kepada warga bahwa di desa itu tidak ada kegiatan oleh orang yang diduga teroris atau tempat latihan teroris. Sampai saat ini Kulon Progo tetap aman,” imbuhnya. [ant/mut]





PDAM Tak Cukupi Pasokan, Warga Gali Sumur Sendiri

20 07 2010

Kulonprogo, CyberNews. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta  (DIY) dinilai warga Dusun Semakeh Tiga, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang tak bisa mencukupi pasokan air bersih. Tiap datang musim kemarau ekstrim seperti sekarang ini warga harus mengambil air dari sungai Tinalah dan Progo.

“Bantuan dana 4 miliar dari proyek pemerintah pusat yang dulu dialokasikan untuk menyerap mata air di sungai Progo tak berhasil, karena sumber mata airnya mati,” kata Ketua Kelompok Kerja Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKLPMD) Mujiono(58), Minggu (18/7).

Menurutnya, Pemdes bersama warga berinisiatif membuat sumur dipinggir sungai Tinalah. Dengan menarik dana swadaya Rp 50 ribu per Kepala keluarga (KK), Pemdes membentuk pengurus kelompok, mendirikan empat  sumur, tower, dan pompa air untuk operasional penyimpanan 1000 liter air bersih di tiap tower yang didirikan.

“Itu untuk memenuhi kebutuhan air bersih empat Rukun Tangga (RT), perhitungannya satu RT  20 KK,” katanya bersama sejumlah warga saat bergotong-royong pembuatan sumur jubin sedalam dua meter dipinggir sungai Tinalah.

Dia mengemukakan, menggunakan tenaga listrik berkekuatan sekitar 900 Watt, air bersih dari tiap sumur akan langsung tertampung dirumah-rumah warga setelah ditampung di bak penampungan diatas tower tersebut. Air itu digunakan untuk kebutuhan hidup warga sehari-hari. Dari memasak hingga diminum.

“Setelah semua ini berjalan, tiap datang musim kemarau warga tak perlu lagi mengambil air dari sungai Progo dan Tinalah. Mereka cukup membayar Rp 50 per bulan, air sudah tersedia di rumah mereka masing-masing,” jelasnya.

sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/07/18/60024/-PDAM-Tak-Cukupi-Pasokan-Warga-Gali-Sumur-Sendiri





POLRES SISIR DESA DIDUGA TEMPAT LATIHAN TERORIS

20 07 2010

Kulon Progo – Polres Kulon Progo melakukan penyisiran wilayah Desa Nanggulan dan Kalibawang, Kec. Sentolo, Kab. Kulon Progo, DIY, terkait isu yang berkembang ada 5 orang yang diduga teroris menggelar latihan di desa itu. “Warga Kalibawang dan Nanggulan resah dengan adanya isu teroris masuk desa. Kemarin kami dan masyarakat melakukan penelusuran dan penyisiran di hutan-hutan di kawasan 2 desa itu,” kata Kasat Intel Polres Kulon Progo, AKP Sutikno, Minggu (18/7).

“Setelah kami lakukan penyisiran ternyata tak ada orang yang diduga teroris, melainkan 5 orang yang sudah biasa mencari kekelawar di hutan disekitar Desa Nanggulan dan Kalibawang,” katanya. Menurut Sutikno, warga turut terlibat kegiatan penyisiran itu.





Pencak Silat dalam Tarian Topeng Ireng Penulis : Sulistiono

20 07 2010

ADALAH kelompok seni Topeng Ireng Cahyo Kawedar di Dusun Padakan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang saban pentas gaduh dengan iringan beduk, kendang, dan bende. Terlebih lagi, muncul jurus-jurus pencak silat dalam tarian.

Untuk pementasan sederhana, jurus-jurus pencak silat yang ditampilkan masih sesuai dengan pakem tari topeng ireng. Namun dalam pentas yang lebih khusus, gerak tariannya dikolaborasi dengan berbagai macam jurus pencak silat sehingga durasi pentas pun bisa mulur.

Untuk pementasan sederhana, dibutuhkan waktu paling cepat 15 menit. Tetapi, untuk pementasan khusus dengan sisipan berbagai jurus pencak silat memakan waktu 1 jam.

Setiap pentas, kelompok penari topeng ireng memiliki susunan materi tari yang sudah mapan, dirancang sesuai dengan kebutuhan pementasan.

Saat pementasan di Taman Budaya Yogyakarta pada acara Pasar Kangen, awal bulan Juli, pertunjukan topeng ireng melibatkan 13 penari.

Di awal tarian penabuh musik memainkan lagu Atur Pambagyo diiringi dengan satu gerakan pencak silat.

Lagu itu bersambung dengan lagu Atur Sugeng, Pemuda, dan Olah Rogo. Di setiap peralihan, masuk selingan musik intro, lantas penari pun terus membawakan tarian mereka mengikuti alunan tetabuhan.

Ya, setiap ada alunan dari musik tabuh, penari bergerak tanpa henti, dengan menonjolkan jurus-jurus pencak silat yang mereka kuasai. Seperti jurus elakan bangau pada lagu Atur Pambagyo, jurus elakan harimau pada joget di lagu Pemuda, dan jurus serangan macan dan elang melayang pada judul lagu Olah Rogo.

“Tarian topeng ireng juga memiliki pakem seperti halnya tarian lainnya. Tetapi kita fl eksibel dalam menari karena disesuaikan dengan kebutuhan,” kata pelatih tari topeng ireng, Sumarjono.

Ia mengisahkan, kesenian topeng yang dikenal masyarakat Yogyakarta dengan sebutan topeng ireng itu berasal dari Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pada awalnya ada yang disebut topeng kawedar yang diciptakan oleh lurah Desa Tuksongo bernama Tumpal. Tarian tersebut dirintis pada 1950 dan baru diresmikan secara terbuka pada 1953.

Seni topeng kawedar merup a k a n s e n i rakyat yang menggabungkan pencak Jawa dengan lagu-lagu salawat sebagai sarana siar Islam. Kini seni topeng ireng belum mati, masih terus berkembang hingga keluar daerah termasuk di wilayah Kulonprogo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Semakin hari topeng ireng mendapat banyak penggemar. Itu bisa dilihat dari ramainya tanggapan dari masyarakat,” ungkap Sumarjono yang sudah menekuni seni topengan sejak 1996.

Topeng Ireng Cahyo Kawedar selalu mendapat tanggapan pentas di berbagai kota seperti Solo, Semarang (Jawa Tengah), di kabupaten/ kota Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan sering kali mendapat tanggapan menari di Jakarta.

Biasanya tanggapan marak mulai April, Agustus, dan hari besar Jawa seperti bulan Rejeb, Syawal, maupun Maulud, hingga pada perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, upacara adat merti dusun, sampai sekadar syukuran khitan.

Dana tanggapan bagi satu grup penari topeng ireng bervariasi dari Rp800 ribu hingga Rp3 juta, tergantung pada jauh dekat lokasi pentas.

“Meskipun seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni ini diminati semua kalangan,” tambah Suyanto, yang juga salah satu pelatih tari topeng ireng, rekan Sumarjono.

Tetap eksis

Di zaman modern ini, seni topeng ireng masih tetap eksis. Tantangan berkesenian dihadapi dengan kearifan dan kreativitas. Mereka mengembangkan seni tari dengan banyak jurus pencak silat untuk mengusir kejenuhan penggemar.

Irama musik yang ditabuh dari alat musik sederhana bisa menghipnosis penonton dan membawa mereka larut dalam gerakan penari.

“Kita sudah banyak ciptakan variasi tarian topeng ireng dari berbagai jurus pencak silat,” kata Suyanto.

Keunggulan seni topeng ireng terletak pada kostum dan keramaiannya. Kostum yang modern dibuat mirip model pakaian khas suku Indian di Benua Amerika, dengan bulubulu pada topi yang dikenakan. Pakaiannya pun dibuat mencolok dan muka penari dilukis dengan motif garis-garis.

Kostum yang dipakai juga fleksibel, bisa diubah dengan memakai bahan alami se perti pada saat tari itu diciptakan yakni menggunakan akar-akar pohon, jerami, maupun janur pohon kelapa. (N-4)

sumber: http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2010/07/15/1075/1/Pencak-Silat-dalam-Tarian-Topeng-Ireng





Tari “Topeng Ireng” Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo, Lestarikan Syiar Islam Dengan Seni Silat

20 07 2010

16 penari Topeng Ireng dari Kelompok Kesenian Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo menari dihadapan pengunjung Pasar Kangen Jogja pada acara pembukaan Pasar Kangen Jogja 2010, Sabtu (26/6).

Pada pembukaan Pasar Kangen Jogja 2010 di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (26/6) adalah kesempatan tampil bagi kelompok kesenian tradisional Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo dihadapan masyarakat Kota Yogyakarta.

16 penari dengan satu kepala suku mementaskan tari Topeng Ireng dihadapan ratusan pengunjung PKJ. Menurut Sumarjono , Koordinator Kesenian Cahyo Kawedan Kalibawang Kulonprogo, tari Topeng Ireng adalah perwujudan seni tradisional yang menghadirkan kolaborasi syiar agama Islam serta pencak silat.

Tari Topeng Ireng ini berasal dari wilayah Magelang. Saat ini budaya tradisional ini sudah menyebar ke banyak wilayah di DIY seperti Sleman dan Kulonprogo. Tari Topeng Ireng ini mudah dikolaborasikan dengan musik tradisional.Alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi tarian Topeng Ireng antara lain kendang, bende serta saron.

Pada pementasan pada pembukaan PKJ 2010 Sabtu (26/6) kelompok kesenian Cahyo Kawedan mementaskan salah satu jenis tari Topeng Ireng yaitu Rodat yang berarti dua kalimat syahadat. Selain  Rodat, ada juga Monolan yang melibatkan penari dengan pakaian membentuk hewan seperti macan dll.

Monolan ini menurut Sumarjono adalah bentuk tarian Topeng Ireng yang melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat yang kuat. Sementara untuk Rodat ditampilkan dengan gerakan-gerakan kaki dan tangan pencak silat sederhana.

Penari-penari Topeng Ireng Rodat hadir dengan kostum tari yang sederhana namun menarik. Pada tutup kepala, mereka menggunakan kuluk dari bulu ayam, dan menthok warna-warni. Untuk kostum badan mereka menggunakan kaos biasa dan rompi berumbai-rumbai pada bahu dan melapisi celana karet yang mereka pakai.

Para penari juga mengenakan sepatu boot dengan dilapisi puluhan klinting kecil sehingga menghadirkan suara gemerincing yang memikat. Penampilan Rodat berlangsung selama kurang lebih 50 menit. “ Biasanya waktu penampilan ini bisa dibuat fleksibel tidak harus berlama-lama. Bisa dibuat 15 menit, 10 menit bahkan 5 menit saja,” kata Sumardjono.

Arti Topeng Ireng

Diterangkan Sumarjono, tari Topeng Ireng belum diketahui kapan pertama kali muncul. Tarian ini berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng. Toto berarti Menata. Lempeng artinya lurus. Irama adalah nada dan Kenceng berarti Kencang. Topeng Ireng berarti penarinya berbaris lurus dengan irama yang penuh semangat.

“Tari Topeng Ireng adalah gambaran kebersamaan, kekompakan dan semangat tinggi serta kerja keras dalam menjalankan kebenaran,” kata Sumardjono sembari menambahkan alunan irama pada lagu bernuansa religi dengan isi syair agama Islam yang menyatu dengan gerak dan suara penari sehingga menghadirkan kedinamisan.

Topeng Ireng sebetulnya merupakan metamorfosa dari kesenian tradisional Kubro Siswo. Agar lebih menarik kaum muda, pengembangan unsur-unsur artistik yang ada dikemas dan disesuaikan dengan tuntutan kualitas garapan koreografi seni pertunjukan yang inovatif. Sehingga, seni topeng ireng memiliki daya tarik tersendiri.(The Real Jogja/joe)

sumber: http://jogjanews.com/2010/06/29/tari-topeng-ireng-cahyo-kawedan-kalibawang-kulonprogo-lestarikan-syiar-islam-dengan-seni-silat/





Kirab Budaya Jumat Pon Ritual Tahunan Digelar Lima Hari

9 07 2010

KULONPROGO-Warga Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo menggelar ritual
Kirab Budaya Jumat Pon. Ritual ini diadakan selama lima hari, dimulai dengan pengajian akbar, kegiatan sosial pengobatan gratis, kirab gunungan dan diakhiri dengan pagelaran kesenian Jaburan dengan  lakon Marmoyo Marmadi Ngaji Ing Sam tadi malam.

Ritual tahunan yang bertujuan untuk mengucap syukur atas berkah Tuhan ini diikuti  oleh warga dari empat pedukuhan, yakni Semaken, Kedondong, Ngipikrejo dan Dekso.  Sejumlah gunungan dan benda pusaka desa disiapkan oleh warga untuk dikirabkan  dari bekas Kelurahan Kedondong menuju Masjid Jami’Sulthoni Sunan Kalijaga yang  berjarak  1 km.

Pusaka yang dikirab adalah tombak pemberian Keraton Jogjakarta,  sedangkan gunungan yang dibawa berupa tumpeng rosulan, gunungan geblek (makanan  khas Kulonprogo),  gunungan palawija dan  gunungan hasil panen warga. Sesampainya di halaman masjid, rombongan kirab dan warga melakukan doa bersama. Kemudian gunungan dirayah (diperebutkan) oleh warga.
“Upacara adat ini dilakukan setiap tahun tepat pada Jumat Pon usai panen di musim kemarau (penghujan)  sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang melimpah dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan,” jelas  Ketua Panitia Kirab Budaya Jumat Pon, Suparman.
Menurut Suparman,  acara ini digelar pertama kali pada 1920 silam. Ketika itu ada wabah penyakit mematikan, meski sudah keliling mencari obat, musibah  itu tak bisa hilang. Hingga akhirnya tokoh masyakarat dan tokoh agama berkumpul dan melakukan doa bersama pada Jumat Pon.  Ajaib, wabah penyakit itu berangsur-angsur hilang.  Dan hingga sekarang doa bersama setiap Jumat Pon tetap diadakan, hanya saja diadakan seusai panen di musim kemarau.

Meski demikian, untuk upacara besar-besaran, baru diadakan selama empat kali, di tahun 1920, 1940, 2009 dan 2010 ini.  “Kendati baru diadakan secara besar-besaran selama dua tahun ini, namun setiap
tahunnya warga tetap mengadakan doa bersama di Masjid Jami ini,” terangnya.
Kabag Pemerintahan Desa Banjararum Sabarno menambahkan, doa bersama yang dilakukan ini diikuti oleh semua warga tidak hanya penganut agama Islamsaja, tetapi lintas agama. Kedepannya,  upacara desa ini tetap akan diadakan sebagai salah satu agenda rutin agar menarik perhatian warga dari luar Kulonprogo ke Kalibawang.  “Kedepan akan dikemas lebih menarik, dan akan diagendakan sebagai kegiatan  rutin,” katanya. (ila) sumber: http://www.radarjogja.co.id/berita/utama/8892-kirab-budaya-jumat-pon.html





Pemkab Renovasi Pasar Tradisional Kamis, 08 Juli 2010 22:10:00

9 07 2010

KULON PROGO (KRjogja.com) - Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Sumber Daya Mineral Pemerintah Kabupaten Kulon Progo merenovasi tiga pasar tradisional yaitu Pasar Hewan Bendungan Kecamatan Wates, Pasar Potro Gaten Kecamatan Lendah dan Pasar Dekso di Kecamatan Kalibawang.

“Renovasi sudah berjalan 10 hari dari target 60 hari. Jadi pasar tesersebut sekitar September sudah bisa ditempati kembali ,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulonprogo (Disperindang SDM), Subagyo, di Wates, Kamis (8/7).

Subagyo mengatakan anggaran biaya yang dikeluarkan masing-masing Pasar Bendungan Rp 102.345.000, Pasar Potro Gaten Rp 129.899.000 dan Pasar Dekso Rp 92.571.000.

“Pelaksaan tender bekerja sama dengan Lembaga Pengadaan Jasa Ekonomi (LPJE) dengan sistem online sehingga tidak KKN dalam tender ini ,” kata Subagyo.

Menurut dia Potro Gaten meliputi rehabilitasi los empat unit, rehabilitasi los beton, dan pembuatan sumur dengan 32 bis serta pembuatan paving di blok B 11 meter persegi. Pasar hewan Bendungan merenovasi los sebelah utara dan selatan, pembuatan los baru, merenovasi tambatan kambing, pembuatan dua kamar mandi dan sumur. Untuk Pasar Dekso merenovasi kios, merenovasi los lama sebanyak enam unit dan membuat los baru.

“Kita targetkan September sudah selesai dan bisa diserahkan ke pengelola pasar. Sekarang pelaksanaan renovasi baru berjalan 20 persennya,” katanya. (Ant/Tom) sumber: http://www.krjogja.com/krjogja/news/detail/40554/Pemkab.Renovasi.Pasar.Tradisional.html








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.